Minggu, 01 Agustus 2010

STANDARISASI DAN PENGKODEAN

Baja memilki standar dan pengkodean yang bermacam-maca dari Amerika hingga Jepang pun mengkodekan jenis baja. Jenis-jenis Kode tersebut adalah AISI(American Iron Steel Institute), SAE(Society for Automotive Engineering), UNS (Unified Numbering System), ASTM(American Standard for Testing and Material), JIS (Japanese Industrial Standard), DIN (Deutsches Institut fur Normung), ASME(American Society of Mechanical Engineers), CEN(Committee European de Normalization), ISO(International Standardization Organization), dan Association francaise de normalization (AFNOR).
Standarisasi untuk pengkodean SAE memiliki cara penulisan sebagai berikut:

XXXX
Untuk dua angka pertama dalam sebutan ini menandakan paduan utama (s) dari baja. Dua angka berikutnya dalam penunjukan menandakan jumlah karbon dalam baja. Masing-masing unsur logam lainnya memilki angka kode yang mengisi digit pertama, yaitu:

Baja Karbon:
• Digit pertama adalah "1" seperti dalam 10xx, 11xx, dan 12xx
• Digit kedua menjelaskan proses: "1" adalah resulfurized dan "2" adalah resulfurized dan rephosphorized.
Baja Mangan:
• Digit pertama adalah "1" seperti dalam 13xx dan, memang, baja karbon. Namun, karena mangan adalah normal produk baja karbon membuat AISI / SAE telah memutuskan untuk tidak mengklasifikasikan sebagai baja paduan.
• Digit kedua selalu "3"
Baja Molybdenum:
• Digit pertama adalah "4" seperti dalam 40xx dan 44xx.
• Angka kedua menunjuk persentase molibdenum dalam baja.
Baja Kromium:
• Digit pertama adalah "5" seperti dalam 51xx dan 52xx
• Angka kedua menunjuk persentase kromium dalam baja.
Baja paduan lebih satu unsur:
• Baja ini mengandung tiga paduan
• Digit pertama dapat "4", "8", atau "9" tergantung pada paduan dominan
• Angka kedua menunjuk persentase reaming dua paduan.
Data pengkodean baja paduan sebagai berikut:
Kode SAE Komposisi
13xx Mn 1.75%
40xx Mo 0.20% or 0.25% or 0.25% Mo & 0.042% S
41xx Cr 0.50% or 0.80% or 0.95%, Mo 0.12% or 0.20% or 0.25% or 0.30%
43xx Ni 1.82%, Cr 0.50% to 0.80%, Mo 0.25%
44xx Mo 0.40% or 0.52%
46xx Ni 0.85% or 1.82%, Mo 0.20% or 0.25%
47xx Ni 1.05%, Cr 0.45%, Mo 0.20% or 0.35%
48xx Ni 3.50%, Mo 0.25%
50xx Cr 0.27% or 0.40% or 0.50% or 0.65%
50xxx Cr 0.50%, C 1.00% min
50Bxx Cr 0.28% or 0.50%
51xx Cr 0.80% or 0.87% or 0.92% or 1.00% or 1.05%
51xxx Cr 1.02%, C 1.00% min
51Bxx Cr 0.80%
52xxx Cr 1.45%, C 1.00% min
61xx Cr 0.60% or 0.80% or 0.95%, V 0.10% or 0.15% min
86xx Ni 0.55%, Cr 0.50%, Mo 0.20%
87xx Ni 0.55%, Cr 0.50%, Mo 0.25%
88xx Ni 0.55%, Cr 0.50%, Mo 0.35%
92xx Si 1.40% or 2.00%, Mn 0.65% or 0.82% or 0.85%, Cr 0.00% or 0.65%

HUKUM NEWTON

HUKUM I NEWTON

Misalkan kita taruh sebuah buku di atas lantai,kita dorong sedikit kuat dan kita lepaskan .kita semua tahu apa yang akan terjadi,buku akan terus bergerak pada garis lurus dan kemudian berhenti.Orang jaman dahulu mengambil kesimpulan,bahwa agar benda dapat bergerak maka pada benda harus terus menerus di lakukan pengaruh luar atau gaya.
Dapat kita ambil kesimpulan bahwa percobaan diatas dikenal dengan hukum kelembaman atau hukum I newton yang berbunyi”Benda akan diam atau bergerak lurus beraturan, jika resultan gaya yang bekerja pada benda itu sama dengan nol”
Hukum I Newton juga memperkenalkan kita dengan satu pengertian lagi yaitu bahwa “ benda akan tetap berada pada keadaannya , yaitu diam atau bergerak lurus beraturan , disebut sifat inersia, jadi inersia adalah sifat benda yang menyatakan hambatannya terhadap perubahan gerak.

HUKUM II NEWTON

Segumpal tanah liat basah, jika dipijit bentuknya akan berubah. Sebuah pegas jika ditarik, maka pegas akan memeanjang. Sebuah balok di atas papan, jika didorong balok akan bergerak. Memijitw, menarik dan mendorong sebuah benda berarti benda itu menderita gaya. Dari analisa data tersebut di peroleh sutu kesimpulan bahwa :
Percepatan yang di timbulkan gaya yang bekerja pada sebuah benda perbanding lurus dengan besarnya gaya dan searah dengan gaya itu dan berbanding terbalik dengan massa kelembaman benda itu.
Pernyataan tersebut di kenal dengan hukum II Newton.pernyataan di atas dapat di tulis dengan rumus:
a=F/m atau F=m.a
Dimana: a = Percepatan.(ms-2)
F = gaya(N)
m = massa kelembaman benda(kg)

HUKUM III NEWTON
Suatu gwaya yang bekerja pada sebuah benda selalu berasal dari benda lain. Jadi wsuatu gayaw sebetulnya adalah hasil intraksi antara dua buah benda . kita dapatkan , bwahwaw jika sebuah benda melakukan sebuah gaya pada sebuah benda lain , benda kewdua wselalu melakukan gaya balasan pada benda pertama . disamping itu kedua gaywa ini mwempunyai besar yang sama dan arah yang berlawanan
wJika salah satuw dari gaya yang terjadi pada intraksi antara dua buah benda tersebut wgaya “aksi”, mwaka gaya yang lainnya disebut gaya “ reaksi”. Mana yang “ aksi” , atau “ reaksi “ tidakwlah penting disini sebab kedua gaya ini bukanlah timbul sebagai sebwab akibat akan twetapi dua gaya yang selalu timbul bersama –sama, sehingga yanwg satu bukanlahw merupakan sebab atau akibat dari yang lain.
Sifat gaya – gaya seprti iwni pertama kali diketemukan oleh newton dalam hukum geraknya yang ketiga: “ sewtiap aksi selalu dilawan oleh reaksi yang sama besarnya; atau aksi timbal balik darwi dua benda adalah selalu sama besar dan mempunyai arah berlawanan.w
Secara singkat hukum III Newtwon menyatakan bahwa
F aksi = -F reaksi
Yaitu bahwa gaya aksi besarnya wsama dengan reaksi, akan tetapi arahnya berlawanan.

USAHA DAN ENERGI

Usaha
Usaha adalah hasil kali gaya dengan perpindahan benda .
W = F.s
W = F.s cos.α
Energy
Energy adalah kemampuan untuk melakukan usah
Energy tidak dapat di ciptakan dan tidak dapat di musnahkan , tetapi hanya dapat Idi ubah dari bentuk energy yang satu kebentuk energy yang lain.
Energy gravitasi
Enrgi potensian gravitasi adalah energy yang dimiliki suatu benda yang karena kedudukanya . ( memiliki ketinggian tertentu dari titik acuan)
Energy potensial gravitasi dirumuskan:
Ep = m.g.h
Usaha dan energy potensial
Usaha yang dilakukan oleh gaya berat sama dengan pengurangan energy potensial. Hubungan antara usaha dengan pengurangan energy potensial dirumuskan:
W = mgh1 –mgh2
Energy kinetic
Energy kinetic suatu benda adalah energy yang dimiliki benda karena benda itu mempunyai kecepatan energy kinetic dirumuskan:
Ek = ½ m.v2
Usaha dan energy kinetic
Usaha yang dilakukan oleh gaya yang besarnya tetap sama dengan perubahan energy kinetic . hubungan usaha dengan energy kinetic dirumuskan :
W = 1/2m.v22-1/2mv12
Energy mekanis adalah jumlah energy potensial dengan energy kinetic.besarnya energy mekanik dirumuskan:
Em = Ep+ Ek
Hukum kekekalan energy m,ekanik
Energy mekanik suatu benda selalu konstan, jika tidak ada gaya luar yang bekerja.
Em = Ep + Ek = konstan
Ep1 + Ek1 = Ep2 + Ek2

STRUKTUR KOMPLEKS LOGAM

Logam transisi memiliki sifat-sifat khas logam, yakni keras, konduktor panas dan listrik yang baik dan menguap pada suhu tinggi. Walaupun digunakan luas dalam kehdupan sehari-hari, logam transisi yang biasanya kita jumpai terutama adalah besi, nikel, tembaga, perak, emas, platina, dan titanium. Namun, senyawa kompleks molekular, senyawa organologam, dan senyawa padatan seperti oksida, sulfida, dan halida logam transisi digunakan dalam berbagai riset kimia anorganik modern.

Unsur-unsur transisi adalah unsur logam yang memiliki kulit elektron d atau f yang tidak penuh dalam keadaan netral atau kation. Unsur transisi terdiri atas 56 dari 103 unsur. Logam-logam transisi diklasifikasikan dalam blok d, yang terdiri dari unsur-unsur 3d dari Sc sampai Cu, 4d dari Y ke Ag, dan 5d dari Hf sampai Au, dan blok f, yang terdiri dari unsur lantanoid dari La sampai Lu dan aktinoid dari Ac sampai Lr. Kimia unsur blok d dan blok f sangat berbeda.

Bab ini mendeskripsikan sifat dan kimia logam transisi blok d.

Struktur kompleks logam

a. Atom pusat

Sifat logam transisi blok d sangat berbeda antara logam deret pertama (3d) dan deret kedua (4d), walaupun perbedaan deret kedua dan ketiga (5d) tidak terlalu besar. Jari-jari logam dari skandium sampai tembaga (166 sampai 128 pm) lebih kecil daripada jari-jari itrium, Y, sampai perak, Ag, (178 sampai 144 pm) atau jari-jari, lantanum, sampai emas (188 sampau 146 pm). Lebih lanjut, senyawa logam transisi deret pertama jarang yang berkoordinasi 7, sementara logam transisi deret kedua dan ketiga dapat berkoordiasi 7-9. Cerium, Ce, (dengan radius 182 pm) ~ lutetium, Lu, (dengan radius 175 pm) terletak antara La dan Hf dan karena kontraksi lantanoid, jari-jari logam transisi deret kedua dan ketiga menunjukkan sedikit variasi.

Logam transisi deret kedua dan ketiga berbilangan oksida lebih tinggi lebih stabil dari pada keadaan oksidasi tinggi logam transisi deret pertama. Contohnya meliputi tungsten heksakhlorida, WCl6, osmium tetroksida, OsO4, dan platinum heksafluorida, PtF6. Senyawa logam transisi deret pertama dalam bilangan oksidasi tinggi adalah oksidator kuat dan oleh karena itu mudah direduksi. Di pihak lain, sementara senyawa M(II) dan M(III) umum dijumpai pada logam transisi deret pertama, bilangan oksidasi ini jarang dijumpai pada unsur-unsur di deret kedua dan ketiga.

Misalnya, hanya dikenal sedikit senyawa Mo(III) atau W(III) dibandingkan dengan senyawa Cr(III). Ion akua (ion dengan ligan air) sangat umum dalam logam transisi deret pertama tetapi ion yang sama untuk logam transisi deret kedua dan ketiga jarang diamati.

Senyawa kluster logam karbonil logam transisi deret pertama dengan ikatan M-M dalam bilangan oksidasi rendah dikenal, tetapi senyawa kluster halida atau sulfida jarang. Umumnya, ikatan logam-logam dibentuk dengan lebih mudah pada logam 4d dan 5d daripada di logam 3d. Momen magnet senyawa logam transisi deret pertama dapat dijelaskan dengan nilai spin saja (lihat bagian 6.2(d)) tetapi sukar untuk menjelaskan momen magnet deret kedua dan ketiga kecuali bila faktor-faktor lain seperti interaksi spin-orbital juga dipertimbangkan.

Jadi, penting untuk mengenali dan memahami perbedaan signifikan dalam sifat kimia yang ada antara logam transisi deret pertama dan deret selanjutnya, bahkan untuk unsur-unsur dalam golongan yang sama. Sifat logam transisi blok d tidak berbeda tidak hanya dalam posisi atas dan bawah di tabel periodik tetapi juga di golongan kiri dan kanan. Golongan 3 sampai 5 sering dirujuk sebagai logam transisi awal dan logam-logam ini biasanya oksofilik dan halofilik. Dengan tidak hadirnya ligan jembatan, pembentukan ikatan logam-logam sukar untuk unsur-unsur ini. Senyawa organologam logam-logam ini diketahui sangat kuat mengaktifkan ikatan C-H dalam hidrokarbon. Logam transisi akhir dalam golongan-golongan sebelah kanan sistem periodik biasanya lunak dan memiliki keaktifan besar pada belerang atau selenium.

Logam transisi blok d yang memiliki orbital s, p, dan d dan yang memiliki n elektron di orbital d disebut dengan ion berkonfigurasi dn. Misalnya, Ti3+ adalah ion d1, dan Co3+ adalah ion d6. Jumlah elektron yang menempati orbital yang terbelah oleh medan ligan (lihat 6.2(a)) disebut dengan pangkat di simbol orbitalnya. Contohnya, suatu ion dengan 3 elektron di t dan 2 elektron di e dinyatakan dengan t3e1.

b. Ligan

Senyawa ion logam yang berkoordinasi dengan ligan disebut dengan senyawa kompleks. Sebagian besar ligan adalah zat netral atau anionik tetapi kation, seperti kation tropilium juga dikenal. Ligan netral, seperti amonia, NH3, atau karbon monoksida, CO, dalam keadaan bebas pun merupakan molekul yang stabil, semenatara ligan anionik, seperti Cl- atau C5H5-, distabilkan hanya jika dikoordinasikan ke atom logam pusat. Ligan representatif didaftarkan di Tabel 6.1 menurut unsur yang mengikatnya. Ligan umum atau yang dengan rumus kimia rumit diungkapkan dengan singkatannya.

Ligan dengan satu atom pengikat disebut ligan monodentat, dan yang memiliki lebih dari satu atom pengikat disebut ligan polidentat, yang juga disebut ligan khelat. Jumlah atom yang diikat pada atom pusat disebut dengan bilangan koordinasi.